19-21 Februari 2010.
Senin, 15 Maret 2010
Sabtu, 13 Maret 2010
Minggu, 31 Januari 2010
Yesss!!! I Have it, Finally...

Jumat, 22 Januari 2010
INFO PAMERAN 2010 (JCC Senayan)
- Mega Bazar Komputer di bulan Maret tanggal 3-7 di Exhibition Hall A + B.
- Pameran Inacraft yang paling di nanti2 berlangsung 21 Apr-25 April 2010 di seluruh hall.
- Pekan Produk Budaya Indonesia pada 23 Jun 2010 - 27 Jun 2010 di Exhibition Hall A + B.
- Indonesia Computer Festival pada 14 Jul 2010 - 18 Jul 2010 di Exhibition Hall A + B.
- Pameran Indonesia Expo 2010 pada 21 Jul 2010 - 25 Jul 2010 di Exhibition Hall A + B.
- National Food Expo pada 28 Jul 2010 - 1 Aug 2010 di Exhibition Hall B.
- Jawa Barat Expo 2010 pada 5 Aug 2010 - 8 Aug 2010 di Exhibition Hall B.
- Gelar Batik Nusantara pada 18 Aug 2010 - 22 Aug 2010 di Assembly Hall 1,2,3 dan Plenary Hall (Grd Flr)
- Expo 2010 30 Sep 2010 - 3 Oct 2010 di Exhibition Hall A + B.
- INDOCOMTECH 2010 pada 3 Nov 2010 - 7 Nov 2010 di Exhibition Hall A + B.
Ga sabar menanti pameran Inacraft dan Indocomtech, hikss...
Minggu, 10 Januari 2010
My Almond Chese Brownies, so chocolates...
- Mentega 200 gr (aku pakai Blue Band ukuran 200 gr)
- Dark Cooking Chocolate 250 gr-300 gr (kalau tidak terlalu suka, bisa pakai 200 gr saja)
- 6 butir telur
- 400 gr gula pasir
- 230 gr tepung terigu
- 20 gr coklat bubuk
- 1 bks vanili bubuk
- 1 sdt baking powder
- 1 sdt soda kue
- Kacang almond iris (sesuai selera)
- Keju parut (sesuai selera)
- Lelehkan mentega dengan api kecil bersama dark cooking chocolate. Dinginkan.
- Kocok dengan kecepatan 2 atau 3, telur dan gula pasir hingga rata, masukkan tepung dan coklat bubuk, vanili, baking powder, dan soda kue.
- Setelah rata, tuangkan campuran mentega dan dark cooking chocolate. Matikan mixer.
- Masukkan kacang almond iris sesuka hati, tapi jgn terlalu banyak.
- Sementara itu, panaskan open. Aku pakai Fantastic Pan.
- Tuang adonan brownies ke loyang yang sudah diolesi mentega, tapi jangan terlalu penuh, kiran-kira setengah tinggi loyang. Aku pakai loyang ukuran 20 x 20, cm tinggi kira-kira 6 cm. Adonan ini bisa untuk dua kali panggangan.
- Hias adonan di atas loyang dengan irisan almond dan keju parut hingga penuh, heehee..
- Panggang kira-kira 30 sampai 45 menit dengan api sedang. Tunggu deh sampai matang.
Sabtu, 09 Januari 2010
Curug Cigamea, Tak Seindah yang Dibayangkan
Ngomong2 tentang naik kereta, kami punya cerita masing2. Juli, Eti, dan Sri naik lebih dulu di kereta pertama. Aku berangkat dari rumah setengah 8, lari2 membawa ransel berat sampe tubrukan dengan tetangga, g bisa mengejar kereta pertama dan menyusul di kereta berikutnya yg ternyata satu kereta dengan Santi, Rera, dan Fitri. Rera dan Fitri punya cerita lain yg konyol dan menjijikan. Di gerbong mereka, ada yg melempar "ngenge" dari luar dan mengenai seorang anak yg terpaksa turun di stasiun terdekat. Kalau dipikir2, kayaknya g ada alasan buat orang itu membuang kotoran ke dalam kereta, kecuali JAHAT.... Setiba di Bogor, ternyata masih kurang dua kawan kami, b Ola telat sehingga Febri yg janjian dengannya menunggu di Tebet, mereka sampe pukul 9 kurang.
Setelah semuanya kumpul (9 cewe), kami siap berangkat. Aku mengusulkan keluar lewat pintu kanan Mayor Oking karena menurut info dari adik, dari situ angkotnya gampang. Tapi, ada yg ngeyel nih katanya pintunya udha lama ditutup, pas ditanya kapan terakhir ke sini, jawabnya pas dia kuliah, hahahaha, lha wong foto kuliahnya jha warnanya udha sephia, piye to, taun kpn tuh.... :D
Beberapa dari kami mengusulkan untuk carter angkot sampe curug dan harga sepakat sama si abang supir 125.000 sampe k curug. Syenengnya mendengar hal itu, qta g perlu turun naek angkot. tapi, ada lagi nih yg ngeyel, kata dia mahal, qta ngecer ajha. ihhh... dasar si ibu.... Tapi, akhirnya kami pun berangkat. Sepanjang perjalanan, kami bercuap2 sambil menikmati nasi uduk merah bekelnya Santi, jeruk shantang punya b Ola, bla....bla...bla.... Sambil cuap2, qta nego sama abang supir supaya carternya diperpanjang sampe dia jemput qta di curug. Tawar-menawar harga, sepakatlah dengan harga 225.000. Tapi, karena kami ribut ketawa ketiwi, g mudeng klo si abang masih mo nego 250.000. Dan ini punya lanjutan sendiri di akhir perjalanan kami, hiks....
Lanjut sampe tiba di lokasi curug, dalam perjalanan klo g pake carter angkot qta akan turun di terminal dramaga dan lanjut ke arah cibatok. Nah, karena qta mencarter sampe ke Curug, maka si abang supir dimintai bayaran 4ribu rupiah. Itu pun karena si abang kenal ma satpolnya, jadi murah. Pungli semacam ini bukan hanya sekali saja. Mendekati lokasi curug, akan ada lagi sekumpulan preman berpakaian satpol yang menghadang. Semua kendaraan pasti dimintai pungli. Karena kami bersembilan, dia menghitung perorang 4.000 rupiah, tapi kami langsung membayar 30.000 dan ternyata g diprotes tuh. Dasar preman...!
Menuju ke air terjun, kami harus menuruni tangga panjang berliuk yg lumayan bikin kaki pegel. Di tengah perjalanan menuju curug inti, kami menemui curug kecil yg terdapat beberapa kera. Kami sempatkan tuk narsis.com di sana.
Lanjut turun, suara deras air terjun yg membuat kami penasaran berubah menjadi kebingungan. Kami tidak disuguhi langsung pemandangan air terjun, tetapi pemandangan bilik2 yg tak tertata rapi menjajakan beraneka jajanan. Kekecewaan kami mulai nampak. Tapi, kami lupakan dan langsung menuju ke curug pertama, sebelumnya terdapat curug kecil lagi yang kami lewati.
Sampai di bawah kami disuguhi air terjun yg tidak sederas bayangan kami, padahal kami pikir saat itu sedang musim penghujan. Curug pertama tidak sederas curug kedua di sampingnya, kami masih mudah melewati bebatuan menuju ke tengah curug. Aku terkagum-kagum melihat ketinggian air yg tumpah ke curug. Subhanallah... terdapat burung gagak memandangi kami dari atas sana. Setelah cukup bercengkrama di curug pertama, kami memutuskan untuk mengisi perut dahulu. Beberapa dari kami ada yg memakan indomie rebus dan lainnya ada yg membeli bakso. Aku tergiur membeli bakso yg pastinya akan nikmat sekali untuk menghangatkan badan. Tapi, ternyata bakso seharga 7.000 itu lembek dan g banget degh! Rasanya g senendang indomi rebus seharga 4.000 atau yg pake telor seharga 6.000. Jadi, untuk kamu2 yg mau jajan di sana, sudah tau kan mau memilih yg mana ....
Lanjut untuk solat zuhur di musola yg waktu itu basah kuyup entah mengapa. Untuk info, tarif kamar kecil di sana adalah 2.000 rupiah perorang, ehm cukup mahal ya. Setelah solat, kami langsung menuju ke curug kedua yang ternyata debit airnya lebih banyak dan deras. Kami bergantian turun ke tengah curug karena harus menjaga properties kami. Beberapa dari kami termasuk aku, kesulitan melewati bebatuan untuk menuju ke tengah curug. Airnya yg dingin terasa menggigit dan membuat kawan kami, Eti keram sebentar. Aku terhenyak melihat gumpalan sabun di pinggiran curug, agak menjijikan. Dan puntung rokok yg dilempar seenak wudele dewek, dasar wong deso ....! Saat itu, pengunjung yg datang cukup banyak dan lokasi curug terlihat agak kumuh, hiks ....
Menjelang pukul 3 sore, kami teringat janji dengan abang supir yg hendak menjemput kami. Kami putuskan untuk berkemas dan mengganti pakaian. Ada cerita lucu saat mengganti pakaian, aku dan 4 orang kawanku memutuskan untuk mengganti pakaian di satu kamar kecil bareng2, hehhee .... dan Santi jadi korbannya, dia dinobatkan jadi paku dadakan tuk sangkutan baju2 kami, hahhahhaha, i'm happy for that :D....
Setelah dirasa rapi, kami pun keluar dari area curug. Ternyata saat menaiki tangga dari curug lebih menguras tenaga, hahh.... Kami sempat berhenti untuk menikmasti cilok sambil melihat ulah kera2 kecil yang liar.
Sambil menunggu si abang supir, kami sepakat turun menuju area outbond yg berada tak jauh dari Curug Cigamea. Beberapa dari kami asyik mencoba ber-flying fox, lumayan seru. Biaya ber-flying fox adalah 20.000 rupiah, jika mau naik dua kali menjadi 35.000 rupiah. Cukup bersenang-senang dan bernarsis.com, si abang supir datang. Dan kami pun pulang. Di tengah perjalanan, kami mampir ke restoran seafood bangka untuk mengisi perut, yummmy, kenyanggggggggg..., dan harganya pas. Restoran ini sudah dekat dengan stasiun, berada di depan pom bensin, aku g tau nama lokasinya. Si abang supir cuma mau teh manis hangat.
Ehm... akhir perjalanan yg seru tak selalu menyenangkan, perjalanan kami di selipi cerita yg cukup mengesalkan dan membuat kami panik. Saat tiba di stasiun bogor, seorang dari kami memberi si abang sisa pembayaran sewa angkot sebesar 100.000 rupiah. Ternyata, si abang protes, dia bilang kok cuma segini, kan 250.000. Beberapa dari kami ngotot dengan kesepakatan awal sebesar 225.ooo rupiah. Si abang akhirnya ngalah, tetapi sambil berucap "ati-ati y di kereta". Beberapa dari kami merasa agak aneh dengan kata-katanya, Eti mengusulkan supaya menambahkan saja 25.000, toh si abang sudah sangat baik. Aku pun mengeluarkan uang 20.000 rupiah karena udha g da receh lagi. Aku sempat lega karena ku pikir si abang udha dapet tambahannya. Tetapi, ternyata kejadian tak diduga menimpa kami. Di loket pintu mayor oking, dua kawan kami asyik memilih-milih manggis dengan konsentrasi penuh. Beberapa dari kami ada yg ingin membeli talas dan aku pun mengajak mereka untuk keluar dari pintu utama. Kami berlima pun meninggalkan Eti, Juli, b Ola, dan Febri yg sedang membeli manggis dengan perjanjian, kumpul di dalam stasiun. Saat kami masuk ke dalam stasiun, pemandangan tak biasa kami jumpai. Lautan manusia yg menunggu kereta membuat kami merinding. Kami pun saling mengingatkan, jangan sampai terpencar. Setelah beberapa menit menawar talas bogor dan menteng, kami masuk ke dalam stasiun. Aku menelpon Eti untuk memberitahu keberadaan kami, ternyata Eti menelpon lebih dulu. Tetapi, saat kutrima, mati. Aku mencoba menelpon balik, tapi tidak terhubung. Kepanikan pun dimulai, Juli mengirim sms kepada Fitri yg berada di rombonganku, di bilang bahwa mereka telah naik kereta, kecuali Eti. Aku mulai panik, sangat panik! Eti, dia kan buta dengan semua stasiun. Fitri dan Rera mulai mencoba menghubungi Juli, b Ola, dan Febri. Sedangkan, aku sibuk menelpon Eti, tapi selalu tidak ter-conect. Aku berkesimpulan bahwa hp-nya mati. Aku lemas, kami berlima menuju ke seberang dekat pintu keluar Mayor Oking, lautan manusia membuat pikiran kami kacau. Eti tidak kami temukan. Aku mulai marah. Kemudian, diputuskan aku balik ke seberang mencarinya dan yg lainnya menunggu di dekat pintu Mayor Oking. Aku gelisah dan pasrah, dan saat aku sudah pasrah ada suara yg memanggil dengan lirih, Irmaaaaaaaaa.... Eti, dia ketemu. hahhh... rasanya ingin marah, ingin nangis juga. Kami balik ke tempat kawan2 lain menunggu. Fitri dan Rera menelpon Juli, b Ola, dan Febri dengan nada keras, aku sampe tercengang melihatnya. Aku udha g bisa marah, lemeeesss....! Dan di kereta, Eti dimarahin abis2an supaya ganti henpon, hahhahahahhaha, rasakaaannnn....!!!
Hahhh... cukup d ceritanya sampai di sini, sambil nulis aku jadi kebanyang kejadian itu lagi. Eti, Eti... kapan mo ganti hp, si emen udha wajib dimuseumkan. Tuk kawan-kawan seperjuangan, maksih udah mau bersenang2 sekaligus berpanik2 ria. Just say, Thanks Allah, I found them, ehemmm ....
Cigamea, semoga keindahanmu tidak pupus dimakan zaman. Kelak, jika aku ke sana lagi, kamu tidak kumuh lagi ya .... :P
Minggu, 27 Desember 2009
Thank's Allah, I Found Them..
Jadikanlah ya Rabb, segala peristiwa yang mengecewakan hamba, saat Kau gariskan kehidupanku terpisah dengan teman-temanku.
Sebuah pengajaran bagi hamba, bagaimana hamba menikmati ANUGERAH.
Agar setiap kali hamba terluka, hamba takkan bersedih.
Setiap kali hamba kecewa, hamba takkan marah.
Dan setiap kali hamba sakit hati, hamba takkan membenci.
Dan bila saat-saat itu datang, hamba hanya akan mengingat waktu-waktu, di mana hanya akan hamba dapati banyaknya kebaikan, banyaknya nikmat, banyaknya hikmah, dan banyaknya kasih sayangMu, yang telah kau curahkan kepada hamba, lewat mereka..., yang telah berlalu, yang telah menemukan dunia yang baru. Semoga tetap Kau sayangi mereka.
Dan lewat mereka, orang-orang yang baru Kau pertemukan dengan hamba, yang telah Kau jadikan satu keistimewaan di hidup hamba. Istimewakan mereka di hadapanMu ya Rabb. Semoga hamba tergolong insanMu yang tak ahli menghinggakan kebaikan dan kasih sayang mereka, Aamiin.
Mohon jaga dan sayangi mama, bapak, adik-adik di rumah, sahabatku Eti, kawan-kawanku, teman-teman lamaku (Noni, Eva, Iik, Lena, Anis, Endah, Thia, Heri, Nur, Lena, Seno, Endah, Yanti, Icha beserta keluarga kecil mereka. Oeji, Rina, Anton, Imron, Toni, dan yang tak tersebut...).
Thank's Allah, I Found Them...
Sabtu, 26 Desember 2009
"....."
Senja Seorang Sukab, so inspiring me
Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia .1
Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suara yang menyejukkan. Dia sudah tahu saja dari mana hujan itu datang.duduk di depan jendela, diusapnya kaca jendela yang berembun. Jari-jari-nya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu.
”Hujan, o hujan …” Dia berbisik.
Dia begitu berbahagia menyadari cinta kekasihnya yang begitu besar, sehingga menjelma hujan yang selalu dirindukannya. Dia tahu betapa ia selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Dia terharu dengan cinta yang membuat segala benda dan peristiwa menjadi bermakna. Dia memandang keluar jendela, menembus tirai kelabu, melewati desau pohon-pohon bambu yang basah dan berkilat dalam hujan dan angin, mengirimkan getaran cinta yang melesat sepanjang langit mnuju kekasihnya di balik kabut. Kilat berkeredap dan guntur menggelegar diatas gunung dalam pertemuan cinta yang panas dan membara.
Hujan itu tidak pernah meninggalkan dia lagi. Hujan itu selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ke mana pun dia datang, datang pula hujan ke tempat itu. Sambil menyetir, dari dalam mobil selalu diusapnya kaca jendela. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, melucur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta. Dari milan, dari Kyoto, dari Jakarta…
Terkadang dibukanya jendela mobil, ditadahinya air hujan dengan tangannya, lantas direguknya. Begitulah caranya cinta meresap kedalam tubuh, menjadi bagian dari alam. Meskipun bukan musim hujan, selalu ada hujan yang turun hanya untuk dirinya. Bila dia keluar rumah, lenyap pula hujan. Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan. Sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta.
”Heran,” kata pembantu rumah tangga di rumahnya, ”setiap kali ibu pergi, hujan berhenti, kalau Ibu datang, hujan lagi.”
”Heran,” kata kawan-kawannya, ”belakangan ini, asal kamu datang pasti hujan, kamu pergi hujan hilang. Padahal bukan musim hujan.”
Suaminya, yang selalupeka terhadap suasana hati istrinya, menadahi air hujan itu, dan membawanya ke laboratorium.
”Ah, ini hujan karena cinta,” katanya kemudian, ”siapa lagi yang jatuh cinta kali ini?”
Dia terkesiap dalam hati. Tapi wajahnya dingin saja.
”Tidak ada apa-apa. Kenapa sih?”
”Kamu kira bisa menutupi perasaanmu yang berbunga-bunga?”
Dia diam saja. Memang hatinya berbunga-bunga.
Diluar hujan masih saja menderas. Air hujan menganak sungai disela-sela rumput, dedaunan basah dan bergoyang-goyang. Tanpa diketahui suaminya dia mengusap seluruh embun disetiap kaca jendela rumah dengan kedua telapak tangannya., lantas membasuh wajahnya. Tubuhnya bergetar dan jiwanya menangis karena terharu. Hujan yang sangat disukainyatak pernah lenyap lagi dari hidupnya. Kekasihnya yang tak terlihat telah mengirimkannya dari jauh atas nama cinta, hanya untuk dirinya saja.
”Hujan, o hujan” desahnya sembari memandang keluar jendela setiap malam.
***
Kemudian tibalah saat ketika cinta diantara dia dan ia memudar. Sebarapa lama sih umur cinta? Hujan yang semula mewakili perasaan cinta yang dahsyat itu sekarang terasa sangat menganggu.
”Cinta kita sudah berakhir, kenapa hujan itu masih saja mengikuti aku ke mana-mana? Lihat semua orang jadi terganggu. Setap keluar mobil aku harus pakai payung. Jalan-jalan di halaman rumah sendiri harus pakai jas hujan. Gimana dong? Kasihan tamu-tamuku. Dimana-mana asal orang berurusan denganku menjadi kehujanan dan basah. Bisa nggak kamu tarik hujanmu ini?”
”Mana bisa? Hujan itu akan selalu ada selama aku masih mencintai kamu.”
”Kamu kira aku senang dicintai kamu? Nggak usah cinta-cintaan lagilah. Tarik hujanmu ini.”
”Sudah kubilang, selama aku mencintai kamu, tidak bisa.”
”Kalau begitu jangan mencintai aku. Bikin repot saja.”
”Bukan salahku. Siapa yang cintanya memudar? Dulu minta-minta dikasih hujan, sekarang omongannya begitu.”
”Bukan salahku aku tidak mencintai kamu lagi. Cewek seabreg begitu. Mana kutahu kamu tetap setia?”
”Aku tetap setia. Menyentuh pun aku tidak pernah.”
”Bukan itu ukuran kesetiaan”
”Apa dong?”
”Sudah kubilang cinta itu abstrak.”
”Tidak.”
”Menurut kamu?”
”Cinta itu konkret.”
”Buktinya?”
”Hujan itu.”
Ia dan dia betengkar sampai malam sambil minum bir plethok. Aneh sekali. Mereka bahagia dalam pertengkaran itu. Barangkali karena mabuk.
”Setidaknya kita masih punya perasaan,” meraka merumuskan setangah mabuk.
Namun hubungan mereka tidak tertolong. Semenjak pertemuan terakhir itu, ia dan dia tidak pernah berjumpa lagi. Meskipun begitu hujan itu tetap mengiringi dia. Perempuan itu selalu bisa melihatnya dari balik jendela loteng, dimana dia mengalihkan cintanya melalu e-mail ke seluruh dunia.
”Masih cinta juga tuh si doi sama istri macam kamu?” suaminya menyindir.
Dia tak pernah menjawab. Tapi dia tahu jika ia masih mencintainya.
***
Sulit sekali bagi ia untuk tidak mencintai dia. Selama itu pula ia tidak mampu menarikkembali hujan cintanya yang menderas dari langit.
”Pikirkan saja istri kamu,” kata istrinya yang menangkap kegelisahan suaminya, ”jangan istri orang lain jadi beban pikiran.”
Ia tak pernah menjawab, karena tidak ada yang bisa dijelaskan. Setiap kali ia melewati jalan layang yang terlihat di mana sepetak hujan itu berada, tapi ia sudah tidak menghendaki perjumpaan macam apapun. Hatinya hancur berantakan seperti keramik jatuh ke landasan dari pesawat kargo yang sedang take off. Dengan kesal dihapusnya nomor-nomor telepon dia dari hand-phone, namun ini hanya membuat ia semakin kesal, karena toh masih hapal juga. Terlalu banyak hal dari dia telah meresap kedalam dirinya dan tak mungkin dihapus untuk selama-lamanya. Gambar-gambar, foto-foto, kata-kata. Waktu meninggalkan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaanya meresap kedalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Ia tak bisa lagi memandang segala sesuatu didunia ini seperti sebelum berjumpa dengan dia, ia tak bisa lagi berpikir di luar cara berpikir seperti dia. Mereka telah berpisah, tapi tidak terpisahkan. Begitukah caranya cinta berada? Pikirnya. Tapi setiap kali berpikir ia teringat dia. Maka ia berusaha berhenti berpikir. Ia marah sekali dengan cinta.
”Taik kucing dengan cinta,” umpatnya dalam hati.
Namun pada suatu senja yang gemilang, cinta jualah yang menyelamatkanya, ketika seorang dia yang lain muncul kembali dari balik kenangan yang sudah terhapus. Dia tidak berkata apa-apa, seperti kutipan sebuah saja: Tidak ada janji | pada pantai.2
Ia pun tahu, tak ada janji pada perjumpaan yang manapun – tapi janji-janji memang tidak diperlukannya, karena janji sebuah cinta yang paling mebara sekali pun hanyalah janji seuatu senja yang terindah. Kecuali di negeri senja, adakah senja yang tidak berakhir?
”kuberikan segalanya untukmu,” katanya kepada dia, ”kuberikan cintaku, jiwaku, hidupku, apa saja yang kau mau.”
Dia hanya tersenyum menghela napas, memandang senja yang dipantulkan kaca-kaca gedung bertingkat.
”Lihatlah senja di kaca gedung itu,” kata ia kepada dia.
”Kenapa?”
”Bila engkau melewati jalan ini, senja itu masih akan berada disana, selama-lamanya.”
”Bisa?”
”Bisa sekali, selama engkau masih mencintaiku.”
”Aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadamu.”
”Tidak perlu. Senja itu sudah mengatakannya.”
Dia melihat langit senja yang menjadi abadi di kaca-kaca gedung bertingkat itu. Dia tahu betapa sulitnya melihat matahari tenggelam di Jakarta. Tapi kini ia telah mengabadikan senja ke kaca-kaca gedung bertingkat untuk dirinya saja. Dia bahagia sekali, namun tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun tidak berkata apa-apa.
Mereka berdua menatap langit, kubah senja yang merah membara bagaikan sebuah impian yang menjanjikan bahwa Negeri Senja memang betul-betul ada. Tapi langit yang semburat kemerah-merahan itu hanyalah sebuah janji yang sebaliknya. Setiap detik terjadi perubahan warna, dari merah yang membara sampai memancar keemas-emasan ketika matahari mestinya telah terbenam. Mereka tak bisa melihat matahari di balik gedung. Senja yang keemasan-emasan itu kemudian dengan pasti menggelap, semakin gelap, dan menjadi malam. Bagi mereka yang terbiasa mengamati senja, akan selalu tahu bahwa senja belum betul-betul berakhir ketika matahari terbenam, dan senja masih juga berbisiki-bisik ketika langit jadi gelap dan permukaan air laut yang tadinya berwarna emas seolah-olah mendadak lenyap, tinggal kecipak suara lidah ombak. Pada saat seperti itu, sebuah renungan telah mencapai kesimpulannya.
Namun mereak tidak berada di pantai. Mereka di tengah kemacetan jakarta yang tidak membri peluang untuk kalimat yang – seperti kutipan sebuah sajak–-bisa berlarat-larat .3
”Mengapa kita tidak mencari bir plethok,” ujar perempuan itu.
Ia mengangguk. Ia berkesimpulan, banyak perempuan Jakarta suka bir plethok.4
***
Dia memandang keluar jendela lagi pagi itu. Sudah beberapa minggu ini diperhatikannya hujan itu berubah, dulunya lumayan deras, sekarang kederasannya lumayan berkurang, meski belum jadi gerimis.
”Apakah cintanya mulai berkurang?” pikirnya.
Kali ini dia sendiri yang menadahi air hujan itu dengan sebuah gelas, dan membawanya ke laboratorium.
Cinta mulai berkurang. Begitu tertulis dalam kertas laporan, dan dia merasa kecewa. Aneh, dia sendiri yang dahulu menolak hujan itu, dan sekarang ketika hujan itu menujukkan tanda-tanda mereda, dia merasa penasaran.
”Kenapa cintanya bisa berkurang? Cinta itu mestinya abadi dong!”
Dengan setengah panik dia memencet-mencet handphone, tapi tiada jawaban. Dia kirimkan sebuah lagu kelompok Queen melewati voice mail. Sebuah lagu yang menjerit:I Stil Love Youuuu! 5
Tapi semuanya sudah terlambat. Pada senja hari itu juga hujan yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi berubah menjadi gerimis dan akhirnya berhenti sama sekali.
”Hujan, o hujan, kemana kamu hujan,” desahnya
Pada senja hari itu dia menatap keluar dari jendela lotengnya, dilihatnya langit yang kemerah-merahan. Langit begitu cerah. Hujan sduah berhenti. Dia tahu betapa ia menyukai langit senja yang kemerah-merahan seperti itu. Dia ingin mengirimkan senja itu kepadanya, sebagai tanda bahwa dia masih mencintainya – mungkin cintanya memang masih ada sedikit, mungkin agak banyak, mungkin pula hatinya tak pernah berubah sebetulnya, tak jelaslah. Saat itu, detik itu, dia ingin sekali.
Dia menatap langit senja di kejauhan sana, dan tahu itu bukan miliknya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaanya.
”Mungkin aku terlalu sentimentil,” pikirnya.6
Pondok Aren, Minggu 30 Juli 2000.
1. Dalam cerita ini, ia adalah kataganti orang ketiga lelaki, dan dia adalah kata ganti orang ketiga perempuan.
2. Dari sajak Goenawan Mohamad, pada sebuah pantai: interlude(1973)
3. Ibidem
4. Cocktail dengan unsure bird an tequila
5. Dari lagu Love of My Love dalam album Live Killers (Juli 1979) vocal oleh Freddy Merkuri (1946-1991)
6. Sajak Pada sebuah Pantai: Interlude(1973) dimulai dengan: semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak sentimentil
Jumat, 25 Desember 2009
Pesanan Coklat di Akhir Tahun
Bang Bing Bung...
Akhirnya kesampean juga punya celengan, kikikikk... kecewa nabung di bank dipotong mulu, kapan kayanya, hahahahaa... :D. Setiap punya dua ribuan, ku masukin k celengan, klo g ada y, dipaksa2in (nuker, heee...). Pertama x masukin ke celengan, sambil berdo'a, mudah2an bisa berangkat umrah, Aamiin... masa kalah ma nyokap yg tabungannya udah bnyak... Bang bing bung yukks!!!
Senin, 14 Desember 2009
Katalog YUMMY COKLAT Terbaru, serbuuuuuuuuuu!!!
Kamis, 10 Desember 2009
Brownies Keju Gratis... (Ehm, Yummy...)
Klo dah dicetak, aku minta satu y :D... Sekali lagi, makasih banyak, mudah2an katalognya g mengecewakan y...
Selasa, 08 Desember 2009
My Cards to My Friends
Pesanan Katalog AJK
Minggu, 06 Desember 2009
Ajaib
dahagaku menyublim,
dan ragaku segar kembali...
Ajaib,
sajakku menyangga otot lambungku,
mengalir bagai sungai di kerongkongan,
lalu tanganku bagaikan pedati,
larut pikiranku dalam tulisan penuh makna,
sekejap selaksa sajakpun tercipta,
dan waktu makan siang tiba...
Menunggu waktu istirahat tiba (Bete)
Daan Mogot (4 Maret 2003)
Nada-Nada Fajar
'ku semat dalam kelopakku,
cahayanya yang segar ranum,
bagaikan kotak musik,
menghimpun nada-nada harapan,
bagi jiwa yang bersih,
mengukir kisah dan cita baru,
selamat datang pagi...
Selamat hari lahir tuk Yanti (11 Maret 2003)
Daan Mogot (4 Maret 2003)
Kala Tidurmu, Mama
tak 'ku saksikan gurat kedamaian,
matanya yang terpejam bagai terjaga,
mengungkapkan selaksa kegundahan,
yang tak sanggup ia dialogkan bersamaku...
Oh, alangkah sukarnya menjadi dirimu,
kadang 'ku renungkan,
apa yang kau mimpikan dalam diammu itu,
atau mungkin kau tak mengenal mimpi...
Kau pernah katakan,
bagimu mimpi adalah selimut tidur,
sedangkan kau tak pernah berselimut,
mungkinkah memang kau tak mengenal mimpi,
atau kau tak tidur dalam pejammu...
Sesaat setelah kau terpejam,
kadang 'ku hampiri dirimu,
dan 'ku pandangi sayu di wajahmu,
seakan ada lukisan duka,
yang luar biasa mendera...
Aduhai, alangkah menderitanya menjadi dirimu,
namun aku tetap bercita-cita,
ingin menjadi dirimu,
tidur sepertimu,
berfikir sepertimu,
hidup sepertimu,
agar kemuliaan Tuhan pun menjadi bagianku sepertimu, Aamiin...
Teruntuk Mama
Daan Mogot (4 Maret 2003)
Lewat Senja
yang indah ini bagimu,
bersama mega yang menjingga,
menyambut malam...
Di senja ini kawan,
ada tawa kita,
semburat sinarannya,
adalah rekaman kisah kita,
yang masih hangat bagai senja,
dan di sana,
bahagia kita, nestapa kita,
menjelma menjadi sabit dan kejora...
Dan kita,
kita adalah angin,
yang berembus meniupi dedaunan,
dan seisi jagat di pengujung hari,
meninggalkan jejak, sebuah sejuk,
sejuk yang lahir dari hati...
Ku ingin semua merasakan sejuk,
kesejukan,
yang mampu memenitkan detik,
meruntuhkan lelah,
melelapkan mimpi...
Begitulah kira-kira yang kuinginkan,
aku ingin kita menjadi angin,
yang membawa kesejukan,
di setiap hati...
Depok, lewat senja ini, untuk senja esok...
Hepi b'day to Imron (27 Juni 2004) & Lena (30 Juni 2004)
No Title (Ucapan Pernikahan tuk Anis-Misbah)
bila langit berubah warna,
menghijau laksana rumput bercermin,
dan dijatuhkannya embun,
bukan sebagai air mata,
melainkan kegembiraan tiada tara,
dan,
biarlah Allah menjadikannya,
cukup hanya untuk kalian berdua,
supaya gugur keheningan,
pudar kekhawatiran,
dalam kesejukan embun langit,
dan keberkahan tak terkira...
Allah maha pencinta,
dan demikianlah kiranya,
bila 'ku isyaratkan,
burung tak lagi bernnyanyi,
melainkan berdo'a,
atau malam tak lagi pekat,
namun benderang penuh cahaya...
Dan cukuplah adanya,
syukur tertuju pada Allah semata,
niscaya kasih sayang akan terpancar di hati setiap insan teruntuk kalian,
Aamiin...
Teruntuk Anis & Misbah
Pekalongan (1-2 Maret 2003)
Daan Mogot (24 Februari 2003)


























